Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin

 

Dalam rangka pengendalian wabah Covid-19 di Indonesia, Pemerintah  tengah menggencarkan vaksinasi COVID-19 untuk mengejar target herd immunity atau kekebalan kelompok secepat mungkin. Warga sudah divaksinasi dan memiliki antibodi terhadap Covid-19.  Kondisi ini akan terbentuk kira-kira 2.6 tahun jika kita kalkulasikan dari kecepatan suntikan menurut Menteri Kesehatan adalah 400.000 suntikan/ per hari dengan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2020 sebanyak 271.349.889 jiwa.

Kebijakan yang dilaksanakan saat ini adalah vaksinasi masssal tanpa pemeriksaan Rapid test Antigen maupun Swab test PCR. Namun skrining hanya dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan check list. Keuntungan dan kelemahan kebijakan ini adalah sebagai berikut:

Keuntungan

Kondisi seperti ini di satu sisi memang memberikan keuntungan untuk mempercepat waktu dan biaya operasional pelaksanaan proses vaksinasi. Meskipun pada saat pelaksanaan skrining lolos warga yang terkonfirmasi positif dan selanjutnya dilaksanakan vaksinasi, secara individual  vaksin tidak memberikan efek negatif bagi bahan aktif  vaksin Covid yang berasal dari virus yang in aktive ( dimatikan), seperti sinovac sekarang ini.

Kelemahan

Kelemahan yang pelaksanaan vaksinasi sekarang sangat tergantung kejujuran warga dalam memeberikan informasi kesehatan dirinya kepada petugas skrining. Terutama kondisi yang merupakan kontra indikasi mutlak pemberian vaksin ini, misalkan penyakit autoimun. Disamping itu jika ada warga yang sedang terkonfirmasi Covid-19 lolos, disatu sisi Vaksinasi massal tanpa tes dan telusur kontak yang memadai ‘akan membiarkan virus corona leluasa menyebar’. Yang akan membahayakan warga lain yang sedang hadir saat pelaksanaan vaksinasi dan bahkan petugas yang memberikan pelayanan jika tidak menjalankan protokol kesehatan dan menggunakan APD yang baik dan benar.

Berkaitan dengan peristiwa ini, seseorang positif setelah vaksinasi CoVid-19 ada tiga  kemungkinan:

1) Orang yang divaksin sebelumnya sudah positif namun tanpa gejala ( OTG). Padahal  virus corona di vaksin yang beredar sekarang sudah mati, maka kemungkinan kecil dapat menyebabkan terinfeksi Covid-19. Oleh karena itu saran saya sebaiknya sebelum dilakukan vaksinasi harus dilakukan skrining Test. Minimal Swab Test Antigen

2) Jika sebelumnya memang negatif Covid-19. Maka antibodi yang digunakan utk pertahanan terhadap penyakit ini belum terbentuk. Karena rata-rata antibodi terhadap Covid-19 secara sempurna terbentuk pada Minggu ke 4 setelah mendapatkan 2 kali vaksinasi dengan jeda 14 hari. Oleh karena itu setelah vaksinasi harus tetap disiplin dalam penerapan protokol kesehatan.

3) Effikasi vaksin Covid-19 yang sekarang dalam program Vaksinasi hanya 65%. Jadi meskipun 4 Minggu setelah vaksinasi masih ada kemungkinan gagalnya yaitu sekitar 35%. Sehingga jika kontak dengan OTG dan yang terkonfirmasi tanpa protokol kesehatan tetap kemungkinan dapat tertular.

Oleh karena itu protokol kesehatan tetap harus dijalankan secara disiplin yang meliputi 5 M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin adalah Guru Besar Ilmu Kesehatan dan anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM